Isnin, Mei 29, 2017

ALLAH AJARKAN TENTANG UJIAN DAN SAKSI

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Alhamdulillah, subhanallah. Saya bersyukur dapat menulis kembali di blog ini. Hari ini masuk hari kedua Ramadhan tahun 2017. Semoga Ramadhan kita pada tahun ini jauh lebih baik dari Ramadhan kita yang lepas.

Pagi ini saya ingin merekodkan sebuah kefahaman bahawa kita satu hari nanti apabila bertemu ALLAH kita akan menjadi saksi terhadap diri kita sendiri.

Pada satu hari saya mengamati ujian-ujian yang ALLAH letakkan di hadapan saya. Dalam berbagai ujian yang saya lalui, ada satu ujian yang hampir sama dengan ujian yang saya hadapi sebelum ini. Ujian ini sudah berkali-kali saya tempuhi. Walaupun bentuknya berbeza tetapi isinya sama, ujiannya sama, tujuannya sama.

Justeru pada kali ini saya dihadapkan dengan ujian yang sama dalam keadaan yang berbeza maka saya berfikir. Kenapa Allah meletakkan lagi ujian ini kepadaku? Apakah ini bererti aku tidak pernah lulus ujian ini?

Saya terbayangkan seperti seorang yang mengambil peperiksaan SPM, tak lepas-lepas maka dia tetap harus duduk menjalankan peperiksaan itu hingga ia lulus.

Saya memikirkan lagi. Allah pasti tahu samada saya akan lulus atau gagal lagi dalam ujian ini. Kenapa ALLAH mahu menguji aku sekiranya Dia memang mengetahui akhir ujian ini.

Alhamdulillah, dalam waktu yang sangat singkat saya difahamkan bahawa Allah meletakkan saya dalam keadaan itu agar saya nanti menjadi saksi kepada diri saya sendiri memang saya sendirilah yang gagal untuk meluruskan ketaatan kepada ALLAH. Saya sendirilah yang memilih untuk mengikuti hawa nafsu. Saya sendirilah yang berpaling. Maka jangan disalahkan ALLAH apabila saya bertemu dengan NYA nanti, Firman Allah:



 أَوْ تَقُولُوا إِنَّمَا أَشْرَكَ آبَاؤُنَا مِنْ قَبْلُ وَكُنَّا ذُرِّيَّةً مِنْ بَعْدِهِمْ أَفَتُهْلِكُنَا بِمَا فَعَلَ الْمُبْطِلُونَ 
atau agar kamu tidak mengatakan: "Sesungguhnya orang-orang tua kami telah mempersekutukan Tuhan sejak dahulu, sedang kami ini adalah anak-anak keturunan yang (datang) sesudah mereka. Maka apakah Engkau akan membinasakan kami karena perbuatan orang-orang yang sesat dahulu?"


وَكَذَلِكَ نُفَصِّلُ الآيَاتِ وَلَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ 
Dan demikianlah Kami menjelaskan ayat-ayat itu, agar mereka kembali (kepada kebenaran).


 وَاتْلُ عَلَيْهِمْ نَبَأَ الَّذِي آتَيْنَاهُ آيَاتِنَا فَانْسَلَخَ مِنْهَا فَأَتْبَعَهُ الشَّيْطَانُ فَكَانَ مِنَ الْغَاوِينَ 
Dan bacakanlah kepada mereka berita orang yang telah Kami berikan kepadanya ayat-ayat Kami (pengetahuan tentang isi Al Kitab), kemudian dia melepaskan diri daripada ayat-ayat itu lalu dia diikuti oleh setan (sampai dia tergoda), maka jadilah dia termasuk orang-orang yang sesat.


 وَلَوْ شِئْنَا لَرَفَعْنَاهُ بِهَا وَلَكِنَّهُ أَخْلَدَ إِلَى الأرْضِ وَاتَّبَعَ هَوَاهُ فَمَثَلُهُ كَمَثَلِ الْكَلْبِ إِنْ تَحْمِلْ عَلَيْهِ يَلْهَثْ أَوْ تَتْرُكْهُ يَلْهَثْ ذَلِكَ مَثَلُ الْقَوْمِ الَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا فَاقْصُصِ الْقَصَصَ لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ
Dan kalau Kami menghendaki, sesungguhnya Kami tinggikan (derajat) nya dengan ayat-ayat itu, tetapi dia cenderung kepada dunia dan menurutkan hawa nafsunya yang rendah, maka perumpamaannya seperti anjing jika kamu menghalaunya diulurkannya lidahnya dan jika kamu membiarkannya dia mengulurkan lidahnya (juga). Demikian itulah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Maka ceritakanlah (kepada mereka) kisah-kisah itu agar mereka berpikir.

(Al-'Araaf: 173 - 176)


Ya ALLAH benarlah firmanMu dalam Al Quran bahawa Engkau telah memberi petunjuk sejelas-jelasnya. Betapa banyak situasi yang sama dengan berbagai keadaan ALLAH designkan untuk saya, Kau sendiri yang tidak mahu berubah? Kau sendiri yang memilih untuk cenderung kepada dunia?

Hati saya tersungkur sujud dan menangis. Ya ALLAH, cukuplah. Aku tidak mahu berpaling lagi. Aku tidak mahu cenderung kepada hawa nafsu dan dunia ini. Akan ku gunakan ujian yang kau hamparkan sebagai jalan untuk mendekatkan diriku kepada MU Ya ALLAH.

Lantas saya berdoa memohon agar ALLAH mengampuni saya dan merahmati nafsu saya di dalam menjalani ujianNya dan menjadikan ujian yang diletakkan di hadapan saya sebagai batu loncatan menujuNYA.

Wallahu aklam

Ahad, Februari 19, 2017

ALLAH AJARKAN TENTANG KHUSYUK DALAM SOLAT

Assalamualaikum wrb


Apa khabar sahabat-sahabat di alam maya? Sudah lama kita tidak bertemu di sini dan berbagai kejadian yang telah menimpa saya sebagai takdir yang telah ALLAH tetapkan kepada diri saya. Alhamdulillah secara ringkasnya saya bersyukur terhadap apa yang telah saya lalui. 

Saya ingin mencoretkan di sini pengajaran lanjutan yang saya perolehi dari sesi halaqah khusyuk solat petang tadi bersama sahabat-sahabat yang hadir. Kami membincangkan apakah amalan-amalan yang dapat dilakukan untuk mencapai khusyuk dalam solat. Maka dalam perbicaraan kami petang semalam terdapat pelajaran-pelajaran tentang nafsu dan bisikan syaitan yang wajib dihindari sekiranya seseorang serius mahu mencapai khusyuk dalam solat. Maka tulisan saya di bawah ini sebenarnya saya khususkan untuk mereka yang hadir di halaqah petang tadi dan semoga ia dapat dimanfaatkan oleh semua yang membaca coretan ini. 


Surah Al An'am ayat 112 - 113

“Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap Nabi itu musuh, yaitu syaitan-syaitan (dari jenis) manusia dan (dari jenis) jin, sebahagian mereka membisikkan kepada sebahagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia). Jikalau Rabbmu menghendaki, niscaya mereka tidak mengerjakannya, maka tinggalkan mereka dan apa yang mereka ada-adakan. (QS. 6:112) Dan (juga) agar hati kecil orang-orang yang tidak beriman kepada kehidupan akhirat cenderung kepada bisikan itu, mereka merasa senang kepadanya, dan supaya mereka mengerjakan apa yang mereka (syaitan) kerjakan"

Seperti yang kita bicarakan petang tadi, syaitan itu kerjanya hanya membisikkan. Masalahnya adalah apabila kita mengikutinya. Apabila kita mengikuti bisikan syaitan bermakna kita menjadikan syaitan itu sembahan (ilah). Kita harus berbalik kepada persoalan kenapa ALLAH menciptakan Syaitan dari jin dan manusia kalau hanya untuk menggelincirkan manusia?

Ini sebuah pendapat saya dapat dari internet yang wajar kita amati:

Saya sendiri, dalam hati pernah bertanya tanya; mengapa Tuhan mencipta iblis, syetan, jin kalau hanya untuk menyesatkan manusia? Demi mengamankan dunia dari genggaman kejahatan dan angkara murka, sebenarnya Tuhan sangat mampu mencegahnya dengan melenyapkan saja semua makhluk perayu, penggoda, penggelincir dan penyesat manusia. Dengan cara ini, pasti manusia hanya berjalan sesuai keinginan dan keridoan Tuhan saja. Namun ternyata tidak. Ada hikmah dibalik semua ini dan rencana yang sangat bijaksana.

Nah menurut ayat 112-113 Al-An'am ini, Tuhan menghadirkan dan menjadikan untuk setiap nabi dan rasul makhluknya yang terdiri dari Iblis, syetan dan jin untuk maksud yang sangat bijaksana. Bisikan-bisikan kejahatan, permusuhan,fitnah dan kemaksiatan lainnya digembar gemborkan karena hendak menguji keaslian dari kepalsuan. Agak sulit mengetahui benar-benar beriman atau hanya dengan pengakuan beriman, tanpa alat uji.

Nah.... Alat uji itu adalah syetan, iblis dan jin itu. Coba simak dan renungkan ayat-ayat berikut ini:

"Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu syaitan-syaitan (dari jenis) manusia dan (dan jenis) jin, sebahagian mereka membisikkan kepada sebahagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia). Jikalau Tuhanmu menghendaki, niscaya mereka tidak mengerjakannya, maka tinggalkanlah mereka dan apa yang mereka ada-adakan. 
Dan (juga) agar hati kecil orang-orang yang tidak beriman kepada kehidupan akhirat cenderung kepada bisikan itu, mereka merasa senang kepadanya dan supaya mereka mengerjakan apa yang mereka (syaitan) kerjakan". (Al-an'am: 112-113)

Seseorang secara ikhtiyari memilih kebaikan dari sekian banyak kejahatan dan rayuan angkara murka, membuktikan bahwa dia secara sadar memilih jalan yang dikehendaki Islam.

sumber:  (http://motivator-motivator.blogspot.my/…/tafsir-surat-al-an…)

Dari tulisan di atas saya ingin menarik perhatian kita kepada dua perkara :-

1. Agak sulit mengetahui benar-benar beriman atau hanya dengan pengakuan beriman, tanpa alat uji

2. Seseorang secara ikhtiyari memilih kebaikan dari sekian banyak kejahatan dan rayuan angkara murka, membuktikan bahwa dia secara sadar memilih jalan yang dikehendaki Islam.

3. Orang yang cenderung kepada bisikan itu disebut ALLAH orang yang tidak beriman kepada hari akhirat (ayat Al An'am: 113)

Maka orang yang khusyuk dalam solat adalah orang yang BENAR beriman kepada ALLAH dan menyembah hanya ALLAH. Justeru, bagaimana mungkin kita mampu khusyuk kalau kita menjadi orang yang sering mengikuti bisikan syaitan dan hawa nafsu. Kita sering gagal apabila diuji dengan alat uji keimanan yang diciptakan ALLAH iaitu nafsu, syaitan yang terdiri dari jin dan manusia.

Maka itulah pengajaran yang kita dapat petang tadi bahawa jalan untuk mencapai khusyuk dalam solat mestilah merupakan suatu usaha yang bersungguh-sungguh (jihad). Dan salah satu usaha tersebut adalah usaha untuk melawan hawa nafsu dan menghindari dari mengikuti bisikan syaitan. Menghindari dari mengikuti hawa nafsu dan bisikan syaitan adalah pembuktian KEIMANAN kepada ALLAH dan hanya yang beriman secara BENAR kepada ALLAH yang mampu khusyuk dalam solatnya
.
Maka seterusnya apakah amalannya supaya kita mampu menghindari bisikan hawa nafsu dan syaitan ini?

1. Berpuasa sunat Isnin dan Khamis dan apa-apa saja puasa sunat yang dilakukan Rasulullah saw. Puasa itu menundukkan hawa nafsu.

2. Mohon perlindungan dengan ALLAH dari bisikan syaitan yang terdiri dari jin dan manusia. Antara zikir-zikir yang diamal Rasulullah saw adalah surah Al Ikhlas, Al Falaq dan An-Nas. Fahami dan hayati intisari ketiga2 surah ini dan amalkannya. Mudah-mudahan ALLAH melindungi kita dari bisikan-bisikan yang mengajak melakukan kejahatan. Banyak ayat-ayat yang memerintahkan meminta perlindingan dari ALLAH dari bisikan syaitan seperti ayat di bawah ini:

“Jika kamu ditimpa sesuatu godaan setan, maka berlindunglah kepada Allah, karea sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui” (QS. Al-A’rof:200).

3. Rasulullah saw menganjurkan kita beristighfar minima 100x sehari. Kita sebagai hamba ALLAH yang lemah akan kecundang juga dengan nafsu dan bisikan-bisikan ini tapi orang-orang yang beriman akan cepat ingat kepada ALLAH apabila melakukan dosa dan dia kembali kepada ALLAH dengan bertaubat secara benar dan memohon keampunan dari ALLAH. Justeru menyedari hal ini, kita wajarlah sentiasa beristighfar.

4. Berbagai zikir dan doa harian yang dianjurkan Rasulullah saw wajar menjadi amalan kerana berbagai manfaat yang disebutkan Rasulullah saw. Antara manfaatnya adalah menghindari dari mengikuti bisikan kejahatan kerana ALLAH memelihara orang yang sentiasa berzikir kepadaNYA. Teringat saya dengan satu kuliah Ustaz Abd Muein bahawa apabila kita sentiasa dekat dengan ALLAH melalui zikir kepadaNYA maka syaitan akan lari dari dan menjauhi diri kita. Apabila kita lalai dari mengingati ALLAH maka Allah sendiri yang menghantar syaitan di hati kita yang syaitan itu menjadi teman dihati kita.

"Barangsiapa yang berpaling dari mengingati Tuhan Yang Maha Pemurah (Al Quran), kami adakan baginya syaitan (yang menyesatkan) maka syaitan itulah yang menjadi teman yang selalu menyertainya." (Az-Zukhruf: 36)

5. Last but not least, AL QURAN itulah cahaya yang akan menyelamatkan kita dari mengikuti kejahatan yang dibisikkan oleh syaitan dan hawa nafsu. Maka baca dan fahamlah isi kandungan AL-Quran UNTUK DIIKUTI!

Wallahuaklam
Ummu Ayman